BURN YOUR IDOL

Adult Contemporary – Bakar Idolamu: Diskografi Generasi MPEG

What came first, the music or the misery? People worry about kids playing with guns, or watching violent videos, that some sort of culture of violence will take them over. Nobody worries about kids listening to thousands, literally thousands of songs about heartbreak, rejection, pain, misery and loss. Did I listen to pop music because I was miserable? Or was I miserable because I listened to pop music?
- Rob Gordon, ‘High Fidelity’ (Nick Hornby/Stephen Frears, 2000)

Catatan I: Wok, Aku dan Musik – Sebuah Memoar Singkat

Aku pertama mendengarkan musik secara intens mulai dari umur 6 tahun, sekitar kelas 1 SD saat masa kecil yang aku lalui di Jakarta. Yang aku dengarkan bukan lagu anak-anak seperti Chicha atau Ira Maya Sopha pada waktu itu, tapi lagu-lagu barat untuk remaja atau orang dewasa dari koleksi kaset Ibu aku. Waktu itu awal dekade 1980an. Tak banyak sarana lain mendengarkan musik, kecuali radio dan TVRI yang terbatas.

Ibuku juga tak pernah melarangku mendengarkan lagu-lagu dari kaset-kasetnya itu. Beliau juga tidak pernah memberi atau menyuruhku mendengarkan lagu anak-anak. Jadi, dari kecil aku terbiasa menghibur diri bermain dengan kaset-kasetnya, yang kebanyakan kaset kompilasi ‘Evergreen Love Songs’, atau ‘Best Slow 1981’, produksi perusahaan-perusahan rekaman ‘pembajak’ seperti Team Records atau Aquarius yang berjaya waktu itu.

Musiknya seperti Daniel Sahuleka, Charlene, Carpenters, Beatles, Bee Gees dan sebagainya. Yang aku  ingat, lagu ‘Arthur’s Theme (Best that You Can Do is Fall in Love)’ dari Christopher Cross adalah salah satu lagu pertama yang memikat telingaku, entah kenapa, sampai membuatku sangat ingin belajar bahasa Inggris untuk memahami artinya.

Baru pada pertengahan 1980-an, seleraku agak berubah mengikuti abang dan sepupu-sepupku yang juga banyak menghabiskan uang jajan-nya untuk membeli kaset. Euro Synth Pop/New Wave saat itu mendominasi kehidupan anak-anak remaja tanggung, seperti Blondie, Duran-Duran, Alphaville, dan A-ha. Kami juga sudah bisa mulai menikmati era video musik dengan adanya persewaan video betamax dengan serial Top Pop yang mengkompilasi video-video musik barat saat itu, secara bajakan juga.

Wok satu generasi dengan aku, seumur tepatnya. Apa yang dia alami tidak begitu jauh berbeda denganku. Kaset rekaman bajakan lagu-lagu barat juga menjadi konsumsinya sehari-hari sejak kecil, terutama karena distribusi mereka yang cukup meluas di pulau Jawa saat itu. Referensi musik kami, yang juga banyak dipengaruhi kakak-kakak dan ‘senior’, banyak yang mirip, walau Wok kemudian lebih banyak mengkoleksi heavy metal, punk dan hard rock terutama saat akhir SD dan mulai SMP.

Seperti kisah Wok, ”Kaset pertama yg aku beli album ‘Live! Live! Live!’-nya Twisted Sister. Aku juga pernah di dihukum berdiri di depan kelas gara-gara ngelamun sambil nyanyi-nyanyi ‘Wild Boys’-nya Duran-Duran saat pelajaran berlangsung. Tapi aku juga dengerin lagu-lagu yang umum digemari anak seusiaku, kayak beli kaset OST-nya Voltus, Gaban, Megaloman, serial film silat, dan lain-lain”

Kebiasaan mendengarkan musik menjadi sebuah pola yang tak terlepaskan dari konsumsi sehari-hari di kehidupan kami, walau masih seputar kesenangan, sebagai pendengar saja. Baru ketika SMP sampai kemudian masa kuliah di tahun 1990-an, musik menjadi sesuatu yang berbeda, bukan hanya bunyi-bunyian menyenangkan dan sosok penyanyi yang keren, tapi menjadi lebih kompleks – dan terlebih lagi posisinya menjadi lebih signifikan, seperti kata Wok sendiri di obrolan ym kami: “Ia menjadi satu pilihan sarana pembentukan diri seseorang.”

Kata ‘pilihan’ memang patut digarisbawahi karena pada saat ‘coming-of-age’ itulah kami dihadapkan pada berbagai media, sarana, bidang dan ruang-ruang kesenangan dimana kami memilih mana yang cocok di hati untuk menjadi bagian dari pernyataan jati diri. Untuk orang seperti aku dan Wok, musik adalah satu sarana yang maha penting, dan kini bukan lagi hanya menandai jatidiri saja, tapi juga memori/sejarah – baik kolektif mau pun personal, serta mewakili berbagai celah atau ruang privat yang kecil, tersembunyi tapi memiliki arti tersendiri.

Bedanya, aku memilih untuk menjadi penikmat yang akut saja hingga sekarang, sementara Wok memang kemudian menekuni dunia musik sebagai profesi dan usaha, mulai dari nge-band, penggerak komunitas musik, dan produser musik independen.

Yang kemudian masih menjadi benang merahnya antara aku dan Wok adalah seni rupa. Kami sama-sama mulai aktif di seni rupa sejak awal 2000-an. Saat itu sedang maraknya kemunculan ruang seni alternatif di berbagai kota di Indonesia, yang banyak menampung berbagai aspirasi, gagasan dan juga crossover dari berbagai disiplin komunitas-komunitas penggiatnya.

Wok yang bergabung dengan ruang seni MES 56 sejak 2002, pada akhirnya selalu mencoba melakukan crossover antara dua dunia yang dia cintai, seni rupa dan musik. Menurutnya, itu satu hal yang sulit dan hampir selalu tak pernah berhasil, baik secara konsep mau pun teknis. Burn Your Idol adalah sebuah inisiasinya yang pertama kali berhasil menggabungkan keduanya,

Catatan II: Burn Your Idol – Sebuah Ritus


Burn Your Idol (BYI) dimulai Wok tahun 2009. Caranya sederhana, ia cukup menyebarkan informasi secara viral melalui blog, mengundang teman-teman dekat – dengan batasan usia maksimal 35 tahun, untuk mengirimkan satu judul album yang paling berkesan bagi mereka sepanjang hidup, berikut kisah latar belakangnya dan foto pribadi. Dari situ ia akan mengunduh album-album tersebut di internet, membuat database-nya di web khusus lalu membakarnya menjadi kumpulan CD album ‘bajakan’ dan membuat instalasi dari koleksi tersebut.

Sekarang ini jumlah responden atau ‘burner’ BYI sudah hampir 1000, dan itu pun sudah diseleksi oleh Wok karena banyak yang mengirimkan informasi yang tak sesuai. Karena BYI bersifat getok tular dan berbasis komunitas, maka sekian banyak profil ‘burner’ adalah generasi muda Indonesia di bawah usia 35 tahun, golongan menengah berpendidikan (dalam artian memiliki kemudahan mengakses informasi dan pengetahuan) dan memiliki ketertarikan khusus dalam berbagai caranya sendiri-sendiri tentang musik. Sepanjang proses ini, dengan sendirinya Wok bisa dibilang telah melakukan riset dan pengumpulan data secara intensif akan wajah sebuah subkultur ‘music geek’ di Indonesia, yang memberikan banyak refleksi tentang perspektif, zeitgeist dan konstruksi sosial yang membentuk generasi ini.

Membaca kumpulan profil dan kisah-kisah yang terangkum dalam BYI, kita bisa melihat bagaimana musik hadir dan merasuk dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam taraf produksi pengetahuan di sebuah niche generasi muda negeri ini, juga modus-modus operasinya yang saling-sengkarut antara mainstreaming versus gerakan indie dengan kompleksitas industrialisasi di belakangnya.

Pada generasi yang lebih muda yang lahir setelah 1980-an, Wok melihat betapa modus operasi dan produksi pengetahuan tersebut menjadi lebih intens dan penuh tegangan. Di era dimana benturan-benturan antara isu neoliberalisme, sosial-politik, demokratisasi pengetahuan dan chaos media serta informasi, berbeda dengan generasi yang lahir 1970-an yang lebih personal dan emosional memandang musik, pada generasi yang lebih muda ini mereka lebih memposisikan diri sebagai pengamat, senang me-review secara teknis dan tak banyak relasi personal, serta mencerminkan sebuah perspektif yang berjarak terhadap musiknya itu sendiri.

Asumsi Wok ini bisa juga hasil dari meledaknya dunia dan industri musik paska 2000-an, yang kemudian menjadikan struktur scene para penikmat atau pelaku musik menjadi lebih kompleks: antara ‘poser’ dengan yang fanatik (geek), kemunculan para hipsters, dan juga semakin kerasnya mainstreaming dalam industri tersebut.

Dulu, saat kami remaja dan mahasiswa, ‘pembuktian’ sebagai penikmat/pelaku musik adalah dengan mengkoleksi wujud fisik dari musik tersebut: untukku dan Wok itu adalah kaset dan CD, untuk generasi sebelumnya bisa berupa piringan hitam. Untuk generasi sekarang,fisik musik tidak lagi berarti. Internet menyediakan belantara file-sharing untuk mengunggah/mengunduh lagu dan didengarkan melalui komputer atau iPod/mp3 player. Lagu dapat diperoleh dalam bentuk digital dan bisa dikopi begitu saja, dengan temuan format MPEG/mp3/mp4, tersebarluaskan melalui jaringan pengguna internet mulai dari rumah pribadi, warnet, hingga sekarang dengan berkembangnya mobile web. Pembuktiannya adalah pengetahuan dan kecepatan mendapatkan informasi. Hampir sama dengan para digerati (cendekia web), technosexual dan gadget-freaks.

Namun, satu hal yang tetap menjadi benang merah antar generasi ini adalah: hampir semuanya mengklaim album musik dari luar negeri (notabene: Barat) sebagai album favoritnya – yang menurut Wok mencapai 80% dari keseluruhan ‘burner’. Saya dan Wok sendiri sebagai burner pun begitu. Album favorit kami, ‘apa boleh buat’, adalah bukan album dari negeri sendiri.

Hal ini kami sikapi tanpa apologia, yang mungkin juga begitulah adanya dengan burner lain, dan menawarkan satu sudut pandang: bahwa kami tumbuh dengan musik barat, seperti juga pengaruh-pengaruh dari luar lainnya dalam bentuk lain, merasa terwakili olehnya, bercampur dengan konstruksi sosial lokal dimana kami masing-masing tumbuh dan berkembang, tertatih-tatih mencoba bertahan, meresap dan menyaring semua pengaruh tersebut serta menentukan sikap dan individualitas kami sendiri-sendiri.

Dalam Burn Your Idol, tegangan antara ekspresi/sikap individualitas itulah yang direkam oleh Wok secara konseptual, sementara konstruksi sosial lokal yang melatarinya adalah yang kemudian coba digarap oleh Wok secara visual, terutama tentang perpindahan medium mendengarkan musik di Indonesia. Analog menuju digital. Ia menggubah Burn Your Idol dalam sebuah instalasi multimedia, dengan menghadirkan rak berisikan kumpulan CD para burner yang sudah tertata dan terklasifikasi layaknya di toko-toko musik seperti yang lazimnya kami tahu sejak kecil. Alat untuk mendengarkan CD tersebut yang diketengahkannya adalah optical drive (CD-ROM) komputer desktop bekas lengkap dengan speaker aktif, yang biasa terpasang di PC ‘jangkrik’ khas pengguna komputer di Indonesia kebanyakan.

Bentuk CD mungkin adalah bentuk fisik terakhir dari produksi album musik, setelah sebelumnya piringan hitam dan kaset, dimana musik seolah bisa disentuh, dipajang, menandai relasi personal dan emosional antara si pemilik dengan album tersebut. Setelah ini, fisik musik akan semakin virtual dan ‘nano’, entah bagaimana teknologi dan media akan berkembang serta mempengaruhi perkembangannya baik secara artistik maupun struktur industrinya di masa depan.

Kemungkinan romantisme para music geeks menyusuri ber-rak-rak album musik di masa yang akan datang hanya bisa dialami di toko-toko vintage seperti sekarang sudah terjadi dengan vinyl shops dan lapak-lapak kaset bekas di pasar Beringharjo. Mungkin juga romantisme seperti itu juga hanya akan dialami sampai generasi yang sekarang direkam oleh Wok dengan BYI. Entah seperti apa relasi antara musik dan penikmatnya nanti dengan modernitas yang begitu cepat dan membuat semua orang terengah-engah karenanya. Entah seperti apa wajah generasi dan subkultur yang kemudian akan terbentuk olehnya.

Wok mencoba menangkap segala persimpangan tersebut. Burn Your Idol adalah sebuah tribute untuk musik itu sendiri yang telah menjadi bagian besar dari sebuah bagian generasi yang sudah dan sedang tumbuh di negeri ini. Ia juga menjadi seperti sebuah rite of passage: menandai akan dimulainya sebuah era baru bagi generasi baru, dan menyimpan serta menjaga yang lama dan akan lewat.

Yogyakarta, Juli 2011

Farah Wardani
Pecinta Musik dan Seni Rupa, Fangirl, Teman Wok The Rock

One Comment

  1. Prima
    29/07/2011

    Saya bener-bener bangga, atau persisnya, bahkan akhirnya bisa menemukan kembali alasan kenapa harus merasa bangga jadi orang Indonesia. Karena ada Wok The Rock, ada Farah Wardani, dan semua tim dibalik hadirnya YesNoWave dan aksi BurnYourIdol. Salut!!

Leave a Reply

Stop SOPA